Latest Past Events

Pelatihan Manajemen Puskesmas (MP) Angkatan 4

Zoom Meeting dan Plataran Sehat

Pelatihan Manajemen Puskesmas diselenggarakan untuk memperkuat kapasitas pengelola Puskesmas dalam menghadapi kebijakan Transformasi Sistem Kesehatan, khususnya pada penguatan pelayanan kesehatan primer. Puskesmas memiliki peran strategis dalam menyelenggarakan pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif berbasis kebutuhan masyarakat di wilayah kerja sesuai Permenkes Nomor 19 Tahun 2024. Pelatihan ini mendukung penerapan Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer yang menekankan pelayanan berbasis siklus hidup dan integrasi lintas program, klaster, serta jejaring pelayanan. Peserta dibekali kemampuan manajemen kepemimpinan, data, keuangan, sumber daya, upaya kesehatan masyarakat, pemberdayaan masyarakat, dan manajemen mutu agar Puskesmas mampu merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pelayanan secara terintegrasi. Melalui metode pembelajaran daring, pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi manajerial Kepala Puskesmas, penanggung jawab klaster, dan staf manajemen tanpa mengganggu pelayanan. Hasil akhir yang diharapkan adalah Puskesmas yang dikelola secara efektif, berbasis data, dan responsif terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat.

Cataract Management: From Fundamentals to Advanced Innovation

Zoom Meeting dan Plataran Sehat

Katarak merupakan penyebab utama kebutaan yang dapat dicegah di dunia maupun di Indonesia. Berdasarkan survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2014–2016, angka prevalensi kebutaan di Indonesia pada penduduk usia 50 tahun ke atas mencapai 3%, yang menjadikan Indonesia sebagai negara dengan angka kebutaan tertinggi di Asia Tenggara. Diperkirakan sekitar 70-80% dari angka kebutaan tersebut disebabkan oleh katarak. Untuk merespons tingginya beban kebutaan ini, Pemerintah Indonesia telah menyusun Peta Jalan Penanggulangan Gangguan Penglihatan di Indonesia Tahun 2017-2030 yang bertujuan menurunkan prevalensi gangguan penglihatan yang dapat dicegah sebesar 25% pada tahun 2030 menuju Universal Eye Health. Penatalaksanaan definitif untuk katarak hanya dapat dilakukan melalui tindakan pembedahan guna mengeluarkan lensa yang keruh dan menggantinya dengan lensa tanam intraokular (IOL). Saat ini, teknologi bedah katarak telah bertransformasi dengan sangat pesat, mulai dari teknik ekstraksi konvensional (Extra Capsular Cataract Extraction/ECCE), bedah insisi kecil (Small Incision Cataract Surgery/SICS), hingga penggunaan phacoemulsification. Inovasi bedah ini juga diiringi oleh perkembangan masif pada penggunaan lensa premium, seperti lensa toric, multifocal, dan Extended Depth of Focus (EDOF), serta pemanfaatan alat biometrik canggih yang secara nyata meningkatkan efisiensi bedah dan kualitas penglihatan pasien secara optimal. Di sisi lain, pelaksanaan pelayanan yang optimal memerlukan sistem yang kuat dan berjenjang. Di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), strategi penguatan sistem rujukan dan kompetensi sumber daya manusia menjadi sangat krusial. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 29 Tahun 2016 telah mengatur pembagian kompetensi dan pelayanan kesehatan mata dari tingkat primer, sekunder, hingga tersier yang harus dijalankan secara kolaboratif oleh tenaga medis. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Katarak Dewasa tahun 2018 juga sangat menekankan peran dokter umum dan tenaga kesehatan di layanan primer untuk mampu melakukan deteksi dini keluhan katarak, serta melakukan edukasi dan rujukan ke dokter spesialis mata tepat pada waktunya, demi meminimalisasi penyulit dan risiko komplikasi operasi.

Utilization of Artificial Intelligence in Diagnostic Pathology and Oncology to Enhance Quality of Healthcare Services in Primary Care Settings

Zoom Meeting dan Plataran Sehat

Transformasi sistem kesehatan nasional menempatkan digitalisasi sebagai salah satu prioritas utama sebagaimana diarahkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Penguatan rekam medis elektronik, integrasi data kesehatan, serta pengembangan pemanfaatan kecerdasan buatan menjadi bagian dari upaya peningkatan mutu, efisiensi, dan keselamatan pelayanan kesehatan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk fasilitas pelayanan kesehatan primer. Di sisi lain, beban penyakit kanker di Indonesia terus meningkat dan menjadi salah satu penyebab kematian utama. Tantangan yang masih dihadapi meliputi keterlambatan deteksi dini, variasi kualitas rujukan, keterbatasan akses layanan patologi di beberapa wilayah, serta ketidakterpaduan informasi klinis antar tingkat pelayanan. Kondisi ini menuntut sistem pelayanan yang lebih presisi, cepat, dan berbasis data untuk mendukung pengambilan keputusan klinis yang tepat. Perkembangan kecerdasan buatan dalam bidang patologi diagnostik dan onkologi telah menunjukkan potensi signifikan dalam meningkatkan akurasi analisis citra histopatologi, mendukung skrining awal, serta membantu sistem pendukung keputusan klinis. Pemanfaatan teknologi ini berpotensi mempercepat proses diagnosis, mengurangi variasi interpretasi, serta meningkatkan efektivitas sistem rujukan. Dalam konteks fasilitas pelayanan kesehatan primer, pemahaman terhadap output sistem berbasis AI menjadi penting karena hasil tersebut akan memengaruhi keputusan rujukan, edukasi pasien, serta tindak lanjut klinis. Namun demikian, kesiapan sumber daya manusia kesehatan dalam memahami prinsip kerja, manfaat, keterbatasan, serta aspek etik dan regulasi penggunaan AI masih belum merata. Sebagian tenaga kesehatan dan tenaga medis belum memperoleh pembaruan yang memadai mengenai implementasi AI dalam patologi diagnostik dan onkologi, khususnya dalam konteks pelayanan primer. Tanpa penguatan kapasitas, terdapat risiko kesalahan interpretasi, penggunaan yang tidak optimal, serta potensi dampak terhadap mutu dan keselamatan pasien. Selain aspek teknis, implementasi AI dalam pelayanan kesehatan membutuhkan pendekatan kolaboratif lintas profesi. Dokter, perawat, bidan, tenaga laboratorium, tenaga kesehatan masyarakat, pengelola data kesehatan, serta unsur manajemen fasilitas kesehatan memiliki peran dalam membaca, menindaklanjuti, dan mengintegrasikan informasi diagnostik berbasis AI ke dalam alur pelayanan. Oleh karena itu, peningkatan literasi dan kompetensi dasar mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan menjadi kebutuhan yang bersifat nasional dan lintas profesi.